Minggu, 28 Agustus 2011

Masturbasi & Onani Boleh Dilakukan

Meraih kenikmatan seksual bisa dilakukan dengan berbagai macam cara, seperti masturbasi atau onani. Lantas, adakah efek samping melakukannya?
Menurut buku ”Kesproholic, A-Z Tanya Jawab Seputar Masalah Seksualitas” dari Tim Mitra INTI, masturbasi adalah menyentuh, menggosok, dan meraba bagian tubuh sendiri yang peka, sehingga menimbulkan rasa menyenangkan untuk mendapat kepuasan seksual (orgasme), baik tanpa menggunakan alat maupun menggunakan alat.
Biasanya, masturbasi dilakukan pada bagian tubuh yang sensitif, namun tidak sama pada masing-masing orang. Misalnya, puting payudara, paha bagian dalam, alat kelamin (bagian wanita terletak pada klitoris dan sekitar Miss V, sedangkan bagi laki-laki terletak pada sekitar kepala dan leher Mr P). Misalnya, laki-laki melakukan masturbasi dengan meraba Mr P-nya, wanita menyentuh klitorisnya hingga dapat menimbulkan perasaan yang sangat menyenangkan atau bisa timbul ejakulasi pada laki-laki.
Sementara itu, onani mempunyai pengertian sama dengan masturbasi. Namun ada yang berpendapat bahwa onani hanya diperuntukkan bagi laki-laki, sedangkan masturbasi dapat berlaku pada wanita maupun laki-laki. Istilah onani diambil dari seseorang bernama Onan yang sejak kecil sering merasa kesepian. Untuk mengatasi rasa kesepiannya, ia mencari hiburan dengan membayangkan hal-hal orotis sambil mengeksplorasi bagian-bagian tubuhnya yang sensitif, sehingga mendatangkan suatu kenikmatan. Nama onan berkembang menjadi onani. Istilah lain dari onani adalah swalayan, coli, ngocok, automanipulatif, dan sebagainya.
Adakah efek samping jika melakukan masturbasi atau onani? Secara medis, masturbasi atau onani tidak akan mengganggu kesehatan. Orang yang melakukannya tidak akan mengalami kerusakan pada otak atau bagian tubuh lainnya. Masturbasi juga tidak menimbulkan risiko fisik, seperti mandul, impotensi, dan cacat asal dilakukan secara aman, steril, tidak menimbulkan luka dan infeksi. Risiko fisik biasanya berupa kelelahan. Pengaruh masturbasi biasanya bersifat psikologis, seperti rasa bersalah, berdosa, dan rendah diri karena melakukan hal-hal yang tidak disetujui agama dan nilai-nilai budaya, sehingga jika sering dilakukan akan menyebabkan terganggunya kosentrasi pada seseorang
◄ Newer Post Older Post ►