Jumat, 28 Januari 2011

Teknisi adalah panggilan hidup

Bagaimanakah proses kita menjadi teknisi? Kita bisa disebut teknisi karena memiliki keahlian di bidang teknik. Kata teknisi sendiri kadang kesannya terlalu 'wah' bagi yang rendah hati. Sebutan 'tukang servis' mungkin lebih pas untuk menyebut diri sendiri, sedangkan sebutan 'teknisi' biarkan orang lain yang mengucapkannya. Kebanyakan yang saya tahu (termasuk diri saya sendiri) menjadi tukang servis elektronik adalah suatu proses alamiah. Sejak kecil senang mengutak-atik alat-alat, termasuk alat elektronik, lalu satu demi satu berhasil, lantas dipercaya oleh orang lain, semula hanya keluarga sendiri, kemudian tetangga, dan seterusnya meluas ke tingkat yang lebih luas. Kapan kursusnya, kapan sekolahnya, dan di mana? Secara alamiah tukang servis alami belajar setelah menghadapi masalah, misalnya menghadapi TV yang masih terasa asing, karena merasa belum mampu menanganinya maka ambil kursus, atau baca buku, atau tanya pada yang lebih pintar, baca internet, dsb. Kesimpulannya barang yang diservis ada dulu, baru belajar.

Tetapi mungkin pula ada tukang servis yang naik daun melalui peristiwa sebaliknya, karena tertarik oleh prospek 'mesin penghasil uang' di dunia servis elektronik, lalu ambil sekolah atau kursus di jurusan itu, bahkan ada pula yang tanpa mempertimbangkan bakat. Contoh yang menarik bagi saya, dari 25 orang dalam satu kelas saya saat kursus elektronika, setelah lebih dari sepuluh tahun lulus dari sana, ternyata tinggal saya saja yang masih menekuni dunia elektronik. Kok bisa gitu ya?

Proses seleksi alam akan membawa kita ke dunia kita masing-masing. Kesulitan demi kesulitan yang dihadapi saat menghadapi alat elektronik akan memilah-milah kita mana yang berbakat mana yang tidak. Tanpa 'bakat' seorang teknisi kemungkinan besar akan 'gugur'. Banyak sekali contohnya, karena tertarik oleh uang, orang lalu belajar menjadi teknisi, setelah merasa bisa lalu mencari pasaran, mungkin karena tak mudah mendapatkan pasaran lalu dengan cara menggembosi tukang servis yang sudah mapan, memburuk-burukkan di mata orang banyak, orderpun mengalir, masyarakat ramai-ramai menjadi pelanggannya, tapi kemudian proses seleksi alam membuktikan, tak lama kemudian ditinggalkan para pelanggan, sepi, kemudian usahanya mati. Kok bisa ya?

Bagi yang berbakat kesulitan-kesulitan yang dihadapi adalah 'nikmat', apalagi kalau dapat uang, akan lebih nikmat lagi. Mengutak-atik barang elektronik adalah panggilan hidup, ada kesenangan tersendiri di sana, ada ketagihan (ekstasis) disana. Ada kebahagiaan tersendiri di sana. Sedang bagi yang tidak berbakat kesulitan yang dihadapi boleh jadi merupakan 'siksa', nikmatnya hanya pada hasil materinya saja (uang). Pendeknya, dunia servis elektronik adalah dunianya orang yang berbakat. Bakat adalah karunia Tuhan, melalui bakat dan hobby Dia mengajari manusia dengan caraNya sendiri yang unik. Menekuni bakat dan hobby adalah menyerahkan diri untuk diajari Tuhan, padahal Tuhan adalah robbul'alamin, pengajar alam semesta, jadi pantas saja kalau orang berbakatlah yang jadi 'winner'.
◄ Newer Post Older Post ►